| Judul | Ranah 3 Warna (novel ke-2 dari trilogi Negeri 5 Menara) | ||
| Penulis | Ahmad Fuadi | ||
| Penerbit | Gramedia Pustaka Utama | ||
| Jumlah Halaman | 488 halaman | ||
| Jenis Cover | Soft Cover | ||
| Cover |
|
Alif baru saja tamat dari Pondok Madani. Dia bahkan sudah bisa bermimpi dalam bahasa Arab dan Inggris. Impiannya ? Tinggi betul. Ingin belajar teknologi tinggi di Bandung seperti Habibie, lalu merantau sampai ke Amerika.
Dengan semangat menggelegak dia pulang ke Maninjau dan tak sabar ingin segera kuliah. Namun kawan karibnya, Randai, meragukan ia mampu lulus UMPTN. Lalu dia sadar, ada satu hal penting yang dia tidak punya. Ijazah SMA. Bagaimana mungkin mengejar semua cita-cita tinggi tadi tanpa ijazah ?
Terinspirasi semangat tim dinamit Denmark, dia mendobrak rintangan berat. Baru saja dia bisa tersenyum, badai masalah menggempurnya silih berganti tanpa ampun. Alif letih dan mulai bertanya-tanya : “Sampai kapan aku harus teguh bersabar menghadapi semua cobaan hidup ini ?” Hampir saja dia menyerah.
Rupanya “mantra” man jadda wajada saja tidak cukup sakti dalam memenangkan hidup. Alif teringat “mantra” kedua yang diajarkan di Pondok Madani : man shabara zhafira. Siapa yang bersabar akan beruntung. Berbekal kedua mantra itu dia songsong badai hidup satu persatu. Bisakah dia memenangkan semua impiannya ?
Kemana nasib membawa Alif ? Apa saja 3 ranah berbeda warna itu ? Siapakah Raisa ? Bagaimana persaingannya dengan Randai ? Apa kabar Sahibul Menara ? Kenapa sampai muncul Obelix, orang Indian dan Michael Jordan dan Kesatria Berpantun ? Apa hadiah Tuhan buat sebuah kesabaran yang kukuh ?
Ranah 3 warna adalah hikayat bagaimana impian tetap wajib dibela habis-habisan walau hidup terus digelung nestapa.
Saya akan coba menceritakannya kembali:
Buku ini bercerita tentang kerja keras seorang bernama Alif Fikri, seorang lulusan Pondok Madani untuk mewujudkan mimpinya, yaitu merantau ke Amerika. kondisi ekonomi yang berantakan sepeninggal ayahnya tidak meredam keinginannya yang membara. dengan berat hati ia tinggalkan ibu dan kedua adiknya ke Bandung untuk kuliah di Unpad mengambil jurusan Hubungan Internasional. dia pun berhasil mewakili indonesia sebagai Duta Bangsa di Quebec, Kanada. kehidupan cintanya juga cukup rumit. Alif mencintai seorang wanita yang juga tergabung sebagai duta bangsa. dia berniat untuk menyatakan cintanya, tetapi ia mengurungkan niatnya setelah mendengar pembicaraan antara wanita itu dan temannya. wanita itu tidak akan memiliki pacar sebelum diwisuda.
hari yang ditunggu Alif pun tiba, pada saat ia akan menyatakan cinta ternyata wanita itu telah mempunyai tunangan yang diajaknya pada acara wisuda tersebut. penantian Alif pun sia-sia. namun cita-cita Alif pun telah terwujud, sekarang ia adalah orang yang sukses.
Biografi singkat penulis :
Ahmad Fuadi (lahir di Maninjau, Sumatra Barat, 30 Desember 1972; umur 38 tahun) adalah novelis, pekerja sosial dan mantan wartawandari Indonesia. Novel pertamanya adalah novel Negeri 5 Menara yang merupakan buku pertama dari trilogi novelnya. Karya fiksinya dinilai dapat menumbuhkan semangat untuk berprestasi. Walaupun tergolong masih baru terbit, novelnya sudah masuk dalam jajaran best seller tahun 2009. Kemudian meraih Anugerah Pembaca Indonesia 2010 dan tahun yang sama juga masuk nominasi Khatulistiwa Literary Award, sehingga PTS Litera, salah satu penerbit di negeri jiran Malaysia tertarik menerbitkan di negaranya dalam versi bahasa melayu. Novel keduanya yang merupakan trilogi dari Negeri 5 Menara, Ranah 3 Warna telah diterbitkan sejak 23 Januari 2011. Fuadi mendirikan Komunitas Menara, sebuah yayasan sosial untuk membantu pendidikan masyarakat yang kurang mampu, khususnya untuk usia pra sekolah. Saat ini Komunitas Menara punya sebuah sekolah anak usia dini yang gratis di kawasan Bintaro, Tangerang Selatan.
Memulai pendidikan menengahnya di KMI Pondok Modern Darussalam Gontor Ponorogo dan lulus pada tahun 1992. Kemudian melanjutkan kuliah Hubungan Internasional di Universitas Padjadjaran, setelah lulus menjadi wartawan Tempo. Kelas jurnalistik pertamanya dijalani dalam tugas-tugas reportasenya di bawah bimbingan para wartawan senior Tempo. Tahun 1998, dia mendapat beasiswa Fulbright untuk kuliah S2 di School of Media and Public Affairs, George Washington University. Merantau ke Washington DCbersama Yayi, istrinya---yang juga wartawan Tempo-adalah mimpi masa kecilnya yang menjadi kenyataan. Sambil kuliah, mereka menjadi koresponden TEMPO dan wartawan VOA. Berita bersejarah seperti peristiwa 11 September 2001 dilaporkan mereka berdua langsung dari Pentagon, White House dan Capitol Hill.
Tahun 2004, jendela dunia lain terbuka lagi ketika dia mendapatkan beasiswa Chevening untuk belajar di Royal Holloway, University of London untuk bidang film dokumenter. Penyuka fotografi ini pernah menjadi Direktur Komunikasi di sebuah NGO konservasi: The Nature Conservancy.
sources: http://www.wikipedia.com








